TRIBUN-TIMUR.COM - Diam-diam, dai kondang sekaligus ahli
teologi, Zakir Abdul Karim Naik berkunjung ke Indonesia.
Kedatangannya bersamaan dengan hari kedatangan Raja Arab
Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud bersama rombongan, Rabu (1/3/2017).
Namun, dia tak masuk dalam rombongan Raja Salman, begitu
pula dengan agendanya di Indonesia.
Pendiri dan Presiden Islamic Research itu datang dalam
rangka mempersiapkan safari dakwahnya ke beberapa kota di Indonesia, April
2017.
Segera BACA sebelum DIHAPUS!!Inilah RAHASIA Mencengangkan tentang Raja Salman
Belum diketahui, kota mana saja bakal didatangi Zakir Naik
nantinya.
Informasi kedatangan pria yang berprofesi sebagai dokter ini
dikonfirmasi fanpage 'Zakir Naik Visit Indonesia 2017' pada Facebook.
Sebelumnya, pada April 2016, Zakir Naik pernah diagendakan
menjadi narasumber pada talk show ‘Comparative Religion, Shining Beyond Borders’
dalam rangka milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ke-35.
Namun, belakangan panitia talk show batal menghadirkan Zakir
Naik karena alasan padatnya agenda.
Zakir Naik telah mengadakan banyak debat dan ceramah di
seluruh dunia.
Dikutip dari Wikipedia.org, ia biasa mengadakannya di
Mumbai, India, dan setiap tahun sejak 2007 ia memimpin Konferensi Damai 10 hari
di Somaiya Ground, Sion, Mumbai dengan cendekiawan lainnya, termasuk politikus
Malaysia, Anwar Ibrahim pada 2008.
JIKA SUAMI Tahu Sakitnya Melahirkan, Niscaya Ia Tidak Akan pernah Sakiti Istrinya | Silahkan Share, Semoga Suami Anda Menjadi IMAM Yang Baik.. Amiin...
Tahun 2004, Zakir Naik mengunjungi Selandia Baru dan
kemudian ibu kota Australia atas undangan Islamic Information and Services
Network of Australasia.
Dalam konferensinya di Melbourne, menurut jurnalis Sushi
Das, "Naik memuji superioritas moral dan spiritual Islam dan mencerca
kepercayaan lain dan bangsa Barat secara umum", menambahkan bahwa
kata-kata Zakir Naik "mendorong jiwa keterpisahan dan memperkuat
pemisahan".
Bulan 1 April 2005, Zakir Naik terlibat dalam debat dengan
William Campbell, topiknya ialah Islam dan Kristen dalam konteks ilmu
pengetahuan, di mana keduanya membicarakan dugaan kesalahan ilmiah di dalam
kitab suci.
Khushwant Singh, seorang jurnalis India, mengatakan bahwa
kata-kata Zakir Naik "kejam" dan "mereka jarang masuk debat
tingkat sarjana perguruan tinggi, di mana kontestan bersaing dengan yang
lainnya untuk memperoleh nilai terbaik".
Analis politik Khaled Ahmed menganggap bahwa Zakir Naik,
menurut klaim superioritas Islam terhadap keyakinan religius lain,
mempraktikkan apa yang ia sebut Orientalisme mundur.
Dalam sebuah ceramah di Melbourne University, Naik
mengatakan bahwa hanya Islam yang memberikan wanita kesamaan sejati.
Ia menyatakan pentingnya penutup kepala dengan menganggap
bahwa "pakaian Barat yang terbuka" membuat wanita lebih mungkin
mengalami pelecehan seksual.
Tanggal 21 Januari 2006, Zakir Naik mengadakan sebuah dialog
antaragama dengan Sri Sri Ravi Shankar.
Acara ini mengenai konsep Tuhan dalam Islam dan Hinduisme,
tujuannya ialah memberikan kesepahaman antara dua agama besar India, dan
mengeluarkan kesamaan antara Islam dan Hinduisme, seperti bagaimana berhala
dilarang.
Diadakan di Bangalore, India dengan 50.000 orang memadati
Palace Grounds.
Bulan August 2006, kunjungan dan konferensi Naik di Cardiff
(Britania Raya) menjadi obyek kontroversi ketika MP (anggota parlemen) Wales
David Davies meminta acaranya dibatalkan.
Ia menyebutnya seorang 'penjual kebencian', dan mengatakan
pandangannya tidak pantas memperoleh 'platform publik'; Muslim dari Cardiff,
mempertahankan hak berbicara Zakir Naik di kota mereka.
Saleem Kidwai, Sekretaris Jenderal Muslim Council of Wales,
tidak setuju dengan Davies, menyatakan bahwa "orang-orang yang mengenalnya
(Naik) tahu bahwa ia adalah salah satu orang paling tidak kontroversial yang
pernah ada.
Ia berbicara tentang kesamaan antar agama, dan bagaimana
kita harus hidup selaras dengan mereka", dan mengundang Davies untuk
membicarakan lebih jauh dengan Naik secara pribadi di konferensi ini.
Konferensi tetap berjalan, setelah dewan Cardiff mengatakan
bahwa mereka senang apabila ia tidak berceramah dengan pandangan ekstremis.
Setelah sebuah ceramah oleh Paus Benediktus XVI bulan
September 2006, Zakir Naik menantang debat publik langsung dengannya, tetapi
ditolak oleh Sri Paus.
Bulan November 2007, IRF mengadakan konferensi dan pameran
Islam internasional 10 hari bertemakan Konferensi Damai di Somaiya Ground di
Mumbai.
Ceramah tentang Islam dilaksanakan Naik juga dua puluh
cendekiawan Islam lainnya dari seluruh dunia.
Selama salah satu ceramahnya, Zakir Naik memprovokasi kemarahan
di antara anggota komunitas Syiah di konferensi itu ketika ia menyebutkan
kata-kata "Radhiyallah taa'la anhu" (berarti 'Semoga Allah
mengampuninya') setelah menyebut nama Yazid I dan menyebutkan bahwa Pertempuran
Karbala hanya berdasarkan politik.
Lainnya mempercayai komentar ini disengaja.
Dalam terbitan 22 Februari 2009, Indian Express membuat
daftar "100 Orang India Terkuat 2009" di antara satu miliar penduduk
India, Zakir Naik masuk peringkat 82.
Dalam daftar khusus "10 Guru Spiritual Terbaik India",
Zakir Naik ada di peringkat 3, setelah Baba Ramdev dan Sri Sri Ravi Shankar,
menjadi satu-satunya Muslim di daftar ini.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar